Pelipur Lara Kehilangan Sang Buah Hati


Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat dan salam-Nya semoga tercurahkan kepada penghulu kita Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya. Wa ba’du:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada seorang muslim pun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga dikarenakan karunia rahmat-Nya kepada anak-anak itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan pendapat bahwa anak-anak kaum muslimin berada di surga.” Beliau juga berkata, “Hadits ini memberikan pengharapan bagi kedua orang tua si anak. Lalu bagaimana mungkin ia diragukan?” Maksudnya, hadits ini memberikan pengharapan bagi kedua orang tua si anak untuk masuk surga disebabkan si anak. Lalu bagaimana hadits ini diragukan?

Imam Ahmad dan An-Nasa’I Rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Mu’awiyyah bin Qurrah Radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama seorang anaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada laki-laki itu, “Apakah engkau mencintai anakmu ini?” Laki-Laki itu berkata, “Semoga Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintai anakku ini.” Kemudian anak itu meninggal dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasa tidak menemukan anak itu lagi. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya mengenainya. (setelah mengetahui kabar meninggalnya anak tersebut –pent) beliau berkata, “Tidakkah akan membuatmu senang bahwa di setiap pintu surga yang engkau datangi, engkau akan mendapatkan anakmu sedang berusaha agar pintu itu dibukakan untukmu?”

Imam Ahmad Rahimahullah menambahkan: Lalu seorang laki-laki berkata, “Apakah itu khusus untuk dirinya saja atau untuk kami semua?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu untuk kalian semua.

Dan dalam sebuah riwayat dari Imam Ahmad Rahimahullah:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berkata kepada para anak kecil di hari kiamat, “Masuklah kalian ke surga.” Maka anak-anak itu berkata, “Wahai Rabb, sampai ayah dan ibu kami juga masuk ke dalamnya.” Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka pun enggan masuk. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa aku lihat mereka tidak mau? Masuklah kalian ke surga.” Anak-anak itu berkata, “Wahai Rabb (masukkanlah juga) orang tua kami.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Masuklah kalian ke surga bersama orang tua kalian.”

Ath-Thabrani juga meriwayatkan hal seperti ini dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya ia menambahkan: “Maka dikatakan kepada mereka pada kali yang keempat, Masuklah bersama orang tua kalian.” Maka setiap anak meloncat kepada kedua orang tuanya, dan menarik tangan mereka serta mengajak mereka ke dalam surga. Mereka ketika itu lebih mengenal ayah dan ibu mereka daripada anak-anak kalian yang ada di rumah kalian sekarang.”

Diriwayatkan dari Abu Huraurah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu dan mawquf:

“Anak-anak kaum muslimin berada di sebuah gunung di surga. Diasuh oleh Ibrahim dan Sarah. Dan pada hari kiamat, mereka diserahkan kepada ayah-ayah mereka.” (Dikeluarkan oleh Al-BAihaqi dan yang lain secara marfu’)

Di dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang memiliki dua orang farath dari umatku, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga dengan sebab dua orang farath tersebut. Lalu Aisyah berkata, “Bagaimana dengan umatmu yang hanya memiliki seorang farath?” Beliau bersabda, “Atau yang memiliki seorang farath (maka  Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga dengan sebab seorang farath tersebut – pent)! Aisyah berkata, “Lalu bagaiman dengan umatmu yang tidak memiliki farath?” Beliau bersabda, “Maka aku adalah farath bagi umatku. Mereka tidak akan kehilangan seseorang yang setara denganku.”

Hal ini dikuatkan oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir khutbah yang beliau sampaikan: “Sesungguhnya aku adalah farath (orang yang mendahului) kalian menuju al-haudh (telaga). (HR Bukhari dan Muslim)

Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang nikmat-Nya tidak dapat dihitung oleh seluruh hamba-Nya. Bahkan seringkali nikmat-Nya di dalam musibah yang menyedihkan itu lebih banyak daripada nikmat di dalam karunia yang menggembirakan. Sebagaimana dikatakan:

Kalau Ia timpakan kemudahan, maka menyeluruhlah kegembiraannya

Dan kalau Ia timpakan kesulitan, maka ada ganjaran pahala dibaliknya

Di dalam kemudahan dan kesulitan itu pasti terkandung nikmat-Nya

Pikiran, daratan dan lautan manapun begitu sempit untuk mencakupinya

Karena seorang mukmin memiliki dua negeri, yaitu negeri yang akan ia tinggalkan dan negeri yang ia tuju untuk menetap disana. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu memerintahkannya untuk pindah dari negeri yang akan ditinggalkan ini ke negeri tempatnya bermukim. Agar ia membangun negeri tempatnya bermukim itu, dengan menggunkaan sebagian dari apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya di negeri yang akan ditinggalkannya ini.

Dan boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil sesuatu yang ada padanya secara paksa, demi memakmurkan, memperbaiki dan menyempurnakan pembangunan negeri tempatnya bermukim. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut apa yang hamba-Nya sukai berupa keluarga, harta dan anak, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala haturkan semua itu kembali kepadanya di negeri akhirat. Keluarga, harta dan anak tersebut mendahuluinya sampai ke negeri akhirat agar ia mendapatkan yang lebih baik dari apa yang hilang darinya di dunia. Walaupun orang mukmin itu sendiri tidak menyadari hal tersebut.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memisahkan, melainkan untuk mengumpulkan. Ia tidaklah mengambil, melainkan untuk mengembalikan. Tidak merampas, melainkan untuk memberi. Juga tidak meminta apa yang dipinjamkan oleh-Nya, melainkan untuk memberikannya kembali sebagai milik penuh yang tidak akan diambil lagi selamanya.

Maha Suci Allah yang telah mengaruniakan nikmat kepada hamba-hamba-Nya berupa harta dan keturunan yang Ia berikan kepada mereka. Kemudia ia mengambil kembali sebagian dari nikmat tersebut dari mereka secara paksa. Namun Ia member mereka ganti dengan shalawat, rahmat dan hidayah. Dan ganti tersebut lebih utama dari apa yang telah Ia ambil sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Kalau Ia memberikan kesenangan, itu adalah karunia-Nya

Dan kalau Ia mengambil pemberian itu, Ia memberikan ganjaran pahala

Maka manakah dari dua nikmat itu yang lebih berharga

Dan lebih terpuji akibat dan kesudahannya

Apakah rahmat-Nya yang juga datang dengan kesulitan

Ataulah musibah yang akan membawa ganjaran pahala

Bahkan musibah itu sekalipun membawa penderitaan

Lebih besar kebaikannya bagi yang bersabar dan mengharap ganjaran

Terakhir, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam tercurahkan atas baginda Rasulullah Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.

Sumber:

Diringkas dari Majalah Akhwat Vol 7/1431 H/2010 hal 66-76

 

~Nak, Ummi rindu Ahmad…~

Artikel Lainnya:

Iklan